Selasa, 24 November 2015

Di Sini

Rintikannya, anginnya, suasananya
Jatuhnya , sejuknya, tenangnya
Mungkin itu yang tergambarkan

Melihat ibu dan anak ayam mencari tempat berteduh 
Namun tak perlu kau bingung, di atap ini kita aman 
Walaupun langit terlihat kosong untuk dilihat 
Tak usah kak ragu, karena ia hanya sementara

Bersandarlah sejenak disini bersamaku sayang,
Dengarkanlah alunan nada yang terus terputar 
Biar kita bisa merasakan keindahan Dunia ini bersama 


Di Sini 
24 Nov 2015


Jumat, 11 September 2015

Secangkir Kopi Pahit

Wanita

Terkagetlah kau di sore hari yang kau anggap biasa itu. Beberapa orang sibuk dengan gadget-nya masing-masing, ada yang asik berbincang, ada pula yang hanya melihat kekosongan. Tapi, tak satu kegiatan tersebut kau lakukan. Sempatlah engkau terdiam melihatku, namun alat-alat kopi cepat megalihkan semua pandanganmu. Terfokuslah kau disana, sampai akhirnya aku berlalu begitu saja.

Pria

Beberapa orang menyuruhku untuk menyapamu. Tapi bukan aku tak mau, hanya saja tak ingin ku ganggu kau dan buku yang tengah asyik merasuki Duniamu. Melihat kau dari jauh saja itu sudah lebih dari cukup. Sampai seketika mata ini melihat tawa di balik bukumu. Tanpa sadar wajahku menggerakan bibirnya untuk tertawa. Dan tertawalah kita bersama, berdua!. "Iya" hanya berdua. Tak terlihat satu orangpun menganggu kebahagian kita. "Woy!, HAH?, terkagetlah aku." Ternyata itu hanya sebuah angan-anganku saja, daftar pesanan kopi malam ini amat banyak. Sampai - sampai susah ingin melihatmu sesering dulu. Berlalulah angan itu pergi bersama senja.

Wanita

Tiba-tiba terdengarlah suara lagu yang tak asing terputar di telinga. "Sementara", lagu sementara Float kali ini mengalihkan konsetrasiku. Sempat pikiran ini terbawa kedalam kenangan yang telah kamu buat bersamaku di sini. Di tempat aku berada sekarang. Buku yang tengah ku bacapun tertutup untuk sementara waktu, tak bisa ku lanjantukan halaman demi halaman karena kamu mengalihkannya. Aku tuang kembali secangkir kopi pahit pesananku, dan meminumnya secara perlahan agar bisa kurasakan kepahitan itu. Rasa pahit itu bukan hanya sebuah rasa, tapi kepahitan itu  sudah melekat. Karena akupun tau di balik kepahitan sebuah kopi akan ada kenikmatan yang tersisa. Kamu memang kepahitan di hidupku, tapi pahit itu sedang aku nikmati. Lalu, pandangan ini mengarah ke seseorang yang sedang sibuk meracik kopi pesanan, dari jarak pandang yang tak jauh aku melihat ia begitu serius. Sesekali aku tersenyum dan berharap ia akan melihatku juga. Barulah tersadar sudah lama aku kesini dan kita saling bertemu tapi, tak pernah sebuah nama terlontar dari bibirnya. Dan berbaliklah tubuh ini dengan padangan ke arah jendela.

Pria

Senja berubuah menjadi semakin gelap, kedai kopi inipun akan segera tutup. Aku sibuk membereskan alat-alat kopi dan barang lainnya. Saat kesibukan mulai menghampiri beberapa kali  aku mencari-cari kesempatan untuk melihat kau yang tengah terduduk, terdiam dan hanya menyeruput kopi itu hingga habis. Tak pernah ku sangka bahwa seorang wanita menyukai kopi yang amat pahit. Tapi, disitulah nilai lebih yang kau dapatkan. Jujur aku mengaggumimu. Kau bukan hanya wanita yang murah senyum,  tapi kau juga menjadi wanita asli penikmat kopi. Dari pertama aku melihat kau hadir ke kedai ini, aku mulai merasakan ada perbedaan yang merasuki hatiku. Tiba-tiba aku teringat, aku tak benar-benar mengenalmu, nama kau saja aku tak tau. Di situlah sebuah tantangan merasuki seluruh perasaan dan tubuh ini.

Wanita dan Pria

Pria :" Hallo...".

Wanita : Hai...

Pria : Minal aidin dulu dong! (berjabat tangan)

Wanita : Oh hahaha, Minal aidin juga ya (tersenyum bersama pria)

Pria : Oh ya belum kenalan ya?, nama kamu siapa ?

Wanita : Yaampun iya, "nama aku _ _ N I". "Nama kamu siapa?."

Pria : Hallo, Ni. " Aku Te _ _."

(Percakapan itu berlanjut dan terus berlanjut, sampai di akhir pembicaraan ia pamit untuk melanjutkan perkerjaannya)

Wanita

Terdiamlah aku sesaat, tak ada kata yang bisa menjelaskan tentang malam ini. Akhirnya sesuatu yang telah ku tunggu terjadi. Tak pernah kusangka malam ini ia berani mendatangi. Semua terasa begitu menyenangkan. Lalu, keluarlah aku dari kedai kopi. Lagu di telinga pun terputar mengikuti suasana malam ini, berjalanlah mobil ini pulang bersama senyum yang tak henti menggerakannya.

Pria

Tak akan ada hari seindah hari ini, dan tak ada lagi pertanyaan tentang nama kau yang merasuki pikiran. Malam ini akan menjadi tidurku yang amat nyenyak, dan senyum kau akan menjadi mimpi indah buatku. Semua terasa begitu menyenangkan. Tapi, ada satu pertanyaan yang belum aku ketahui, "Apakah kau merasakan hal yang sama?."



Senin, 24 Agustus 2015

LUKA

Aku 
Sejenak terdiam melihat kamu dan kenangan itu
Bukan 1, 2 ataupun 3 yang terlihat 
Melainkan bilangan tak terhinggalah yang ada disana 

Mengenang 
Sebuah kata yang menyakitkan, adakah pengganti kata untuk dirimu yang lebih indah?
Sehingga hati ini tidak meninggalkan sebuah goresan!

Kamu 
Hanya diam lalu menutup mata, seakan tak ingin melihat Dunia, Dunia nyata ini.
Kau hanya diam dan hanyut kedalam lautan mimpi



LUKA



Jakarta, 27 Mei 2015

Kamis, 02 Juli 2015

Pagi Rindu








Selamat Pagi,
Matahari menyapa 
Bangun,
Kicauan burung bernyanyi membangunkanku 
Rindu,
Hanya kata itu yang terucap 

Sinarnya merasuki kedua mata ini
Membuat diriku terpejam untuk sesaat 
Hembusan angin merasuki seluruh tubuh
Membawanya ingin merasakan dekapanmu 
Dekapan yang begitu hangat

Ini bukan puisi kesedihan 
Ini hanya puisi akan kerinduan



Pagi Rindu

Kamis, 2 Juli 2015




Selasa, 16 Juni 2015

Kisah Hari Selasa

Tuhan...
Aku tau kau mendengar 
Aku tau kau melihat
Dan semua pun tau kau disana 
Apa yang harus kulakukan ? Jujur aku tak bisa, aku tak sanggup. 
Aku tak bisa bernafas tanpanya, adakah yang bisa menggantikan untuk membuat Dia kembali seperti dulu. Adakah syaratmu yang harus kulakukan? 




Bukan salahku ia mendapatkan sedikit luka. Aku tau. Dengarlah isi hatiku wahai penguasa Dunia, aku hanya meminta sedikit rasa cintamu untuk orang yang kucinta, aku hanya ingin melihat ia bertahan di Dunia ini lebih lama lagi. Setiap hari hanya sebuah Doa yang bisa ku panjatkan untuknya. Aku tau dan semua manusia tau penyakit itu di berikan untuk mendapatkan penghapusan dosa dan agar ia selalu mengingatmu. Ada beberapa orang memberikan penjelesan kepadaku bahwa "Tuhan tak akan pernah memberikan cobaan melebihi kemampuan makhluknya." Tapi sebagai makhluk biasa bukan sekali atau dua kali ia dan aku mengeluh untuk menjalani semua ini. Aku tau Penguasa Dunia kau maha pemaaf, maka maafkanlah kami.

Dia selalu berkata kepadaku untuk Ikhlas, perkataan itu akan selamanya merasuki otak, hati , dan jiwaku. Perbuatan itu yang akan selalu coba ku lakukan. Melihatmu tertawa adalah sebuah keindahan di hidupku, wahai Rajaku. Mampukah aku tak melihatnya lagi ?. Aku tak bisa, aku tak sanggup. Sudah kuyakinkan. Sesaat aku terdiam menyadari hari ini. Aku tersadar hari ini adalah harimu. Iya hari Selasa. Tak akan pernah aku lupa hari dimana kau tak membolehkan ku berpergian jauh. Entah kenapa kau selalu bilang begitu. Aku sebisa mungkin mengikuti perintahmu. Aku merindukamu. Selalu merindumu. Sebuah rasa pilu merasukiku.

Tak ada yang lebih hangat dari pelukanmu, tak ada yang lebih aman selain berada di sampingmu dan tak akan ada yang lebih bahagia melihatmu kembali sehat seperti dulu. Tuhan dengarlah isi hatiku ini sekali lagi. Aku mencintainya lebih dari apapun, aku memaafkan semua kesalahanya, dan aku hanya ingin melihatnya bahagia. Maka bantulah aku mewujudkannya. 

( untuk Ayah Mex ) 

Selasa, 09 Juni 2015

Hujanmu

Hari ini adalah harimu, kau bilang begitu
Seluruh alam semesta dan akupun merasakannya
Melalui sebuah hujan kau datang 

Hujan hari ini, ku namakan hujanmu 
Kau datang bersama rintik hujan secara perlahan
Seakan - akan kau tau bagaimana membuat aku, kamu, dan mereka bahagia

Tak ada yang lebih sejuk dari angin sehabis hujan dan, 
Tak ada yang lebih bahagia, melihatmu tersenyum 
Semua terasa begitu berharga 

Saat hujan mulai reda 
Aku melihat sebuah kerjernihan di langit 
Semua begitu jelas, sejelas aku melihatmu hari ini




Hujanmu

9 Juni 2015







Senin, 01 Juni 2015

Menyedihkan

Ada seorang wanita di dalam kesendiriannya, melihat langit berubah menjadi gelap. Lalu, otak dan hatinya mulai menjadi semakin gelisah dengan sebuah pertanyaan.

     "Apa yang terjadi antara kita?." Aku dan kamu senang melakukan hal bersama, aku dan kamu sama - sama ingin mencari kebahagian. Aku dan kamu mencari kesempatan untuk saling bertemu tapi, perlakuan itu membuat kita seakan menipu satu sama lain. Menipu atas sebuah perasaan yang tak pernah terucap.




     "Apa yang terjadi?." Apakah kau tak ingin menikmati sisa hidup bersama seseorang yang selalu menganggumimu. "Apa yang terjadi lagi?." Kau membuat keadaan ini menjadi semakin buruk. Aku mulai muak dengan perlakuanmu. Berpikir sejenak di malam yang sunyi ini, aku tau bahwa Dunia ini takkan sama lagi jika kau pergi. Tapi, kamu juga perlu tau bahwa Duniaku akan semakin baik jika, aku yang pergi bagaikan angin. Melayang meninggalkan seluruh impian yang telah ada bersamamu. Aku selalu menjadikan kamu pria paling bahagia dan aku berpikir kamu menginginkan hal yang sama terhadapku. Sekarang aku akan meninggalkanmu karena, hati ini tau ia tak ingin kembali mengoreskan sebuah ... luka.

Selasa, 12 Mei 2015

Berharap


Kau kembali...
Kau membawaku melihat lebih jelas tentang keindahan dunia ini
Bersama semua khayalan-khayalanmu
Aku terpana



Matahari pagi menyinari seluruh alama semesta, tubuhku-pun ikut merasakannya
Cahayanya menyinari pohon dan dedaunan 
Seakan menandakan bahwa hari ini adalah hari yang cerah


Lalu, dari belakang ku rasakan sebuah dekapan yang begitu hangat
Sampai-sampai seluruh organ tubuh ini ikut merasakaannya
Ku berbalik ke arahmu, ku pandangi seluruh wajahmu 
Ku peluk kau dengan begitu erat
  


 Saat memelukmu ingin rasanya ku katakan "Jangan pergi lagi ya, Pangeran Malamku"
Karena, Aku sepertinya tak sanggup lagi melihatmu kembali pergi
 


Benci rasanya menjadi aku yang disini hanya bisa berharap
Tapi, inilah Aku!
Wanita yang selalu mempunyai segudang harapan...


Berharap
Bandung, 10 Mei 2015 

Jumat, 20 Maret 2015

Awan

     Awan takkan pernah tau berubah bentuk menjadi apa, kapan ia akan hadir dan kapan ia harus pergi. Awan hanya akan mengikuti setiap hembusan angin membawanya berjalan tanpa henti. Langit selalu setia menemaninya menyusuri keindahan Dunia ini tanpa harus bertanya "Mengapa?". Kesetian langit membuat Awan menjadikannya sebagai teman hidup yang tak akan pernah di tinggalkan.

   Awan mempunyai sebuah makna tersendiri di dalam hidupnya. Mungkin ia bukan manusia yang bisa mengungkapkan makna hidupnya secara langsung. Tapi, Awan dapat mengungkapkan semua itu melalui keindahan berupa bentuk-bentuknya, yang dimana ia ingin siapapun melihatnya, dapat memaknai sendiri kehadirannya kapanpun dan dimanapun itu.

   Awan putih akan selalu berjalan mengikuti arah angin dan membuat bentuknya ikut berubah. Kadang hal itu dapat memisahkan kumpulan Awan yang awalnya menyatu menjadi terpisahkan. Lalu, Awan akan merasa sedih untuk sementara waktu. Tapi, jika suatu hari nanti angin membawanya kembali untuk menjadi sebuah keindahan, Awan akan selalu setia menanti perubahan itu. Awan percaya kemanapun angin membawanya pergi dan memisahkan mereka, suatu hari nanti ia akan kembali menjadi satu dan memberikaan kesempurnaan pada bentuknya.





Selasa, 10 Maret 2015

Poem


Pernahkah malam bertanya mengapa ia hadir? 

Pernahkah ia juga mengeluh untuk tidak hadir?

Walau hanya satu hari saja

Tidak, bukan?



Duhai pangeran malamku

Adakah engkau meminta untuk dicintai?

Adakah engkau bertanya mengapa aku mecintaimu?

Tidak, bukan?



Lalu  semua terasa jelas

Engkau tak akan pernah memberikan aku jawaban pasti

Karna aku disini seperti malam yang setia menanti pagi

Tapi kamu, pergi menyusuri malam seakan lupa adanya pagi



Akhirnya...

Aku tersadar akan penatnya hati ini 

Aku mulai memejamkan mata

Bersama kenangan yang merasuki jiwa dan pikiranku 

Berselimut sebuah harapan 

Semoga esok akan ada sebuah pagi yang cerah 




Malam 
Jakarta, 10 Maret 2015




Senin, 02 Maret 2015

Bebas Tanpa Bersuara

     BEBAS!!!!! iya kamu bebas. Kamu membebaskanku dari semua tentangmu, bebas dari semua kenanganmu, dan membuat kebebasan itu hidup kembali. Kebebasan itu aku dapatkan melalui caramu. Cara itulah yang membuatku tersadar bahwa ternyata bukan kamu yang bebas dan lepas di luar sana. Tapi, Aku", "iya"' akulah yang bebas sekarang. Semua rasa kesedihan itu kini telah hilang. Menghilang tanpa bersuara. Sedih itu kini hanya menyisakan sebuah kenangan. Kenangan yang tak akan pernah terlupa. Tapi kesedihan ini juga yang membuat aku tersenyum esok harinya. 

     Sore akan menjadi semangat hidupku untuk membuat semua terasa lebih nyata. Harapan ingin merubahmu menjadi Malam-pun telah kulakukan untuk membuatmu merasa lebih nyaman.




Rabu, 04 Februari 2015

Hitam atau Berwarna ?


   Hidup ini penuh dengan pilihan. Hanya ada dua kemungkinan pilihan itu, ingin hidup Hitam atau Berwarna. Sebuah pilihan yang sangat mirip namun berbeda, sama-sama berupa warna tetapi, mempunyai arti yang berbeda di kehidupan nyata. Hidup ini harus di tentukan oleh pilihan, kadang membuat kita berada di satu titik dimana, kita tidak ingin memilih keduanya.  
   
Suatu ketika aku benar-benar berada di titik harus memilih untuk melanjutkan kehidupan akan menjadi berwarna atau akan lebih menghitamkannya. Di saat itu aku mencari dan terus mencari sebuah warna untuk hidupku. Awalnya semua terasa berat karena aku masih belum menemukan sesuatu yang membuat hidupku menjadi berwarna. 

Aku bukan manusia yang hidup dan terlahir langsung mempunyai kehidupan berwarna dan pasti semua manusia di bumi ini mempunyai kehitaman di hidupnya. Kita mungkin mempunyai kehitaman yang berbeda, tapi aku percaya dan yakin di balik kehitamannya manusia mempuyai sebuah warna yang indah disana. Aku dulu pernah mempunyai kehitaman di dalam hidupku dan sampai sekarang mungkin aku masih mencoba untuk melupakan semuanya. Kehitaman itu membuat aku merasakan kehancuran di dalam diriku. Membuat orang merugi itulah yang membuatku hancur.
  
   Suatu sorepun datang menghampiriku, membuat diriku ingin berdiam di sana lebih lama dari biasanya. Aku berdiam dan terus berdiam. Disana hanya ada aku, kursi coklat, dan matahari terbenam. Aku diam tanpa berkata dan hanya mendengarkan isi hatiku berbicara kepada otak. Mereka saling adu pendapat tentang apa yang harus aku pilih. Disaat sunset mulai merubah warnanya menjadi sangat indah. Sore itu juga aku merasakan bahwa, kadang sunset hadir dengan keindahnya tapi, kadang ia tidak memberikan warnanya sama sekali. Apa bedanya sama kehidupan aku sekarang ? aku hanya harus memilih ingin mempunyai warna yang indah atau sebaliknya.

Sore itu pun berlalu dan terus berlalu, hati dan pikiranku juga berlalu, disaat itu aku menunggu jawaban yang akan aku lakukan untuk merubah kehitaman ini. Dan hari itu aku tersadar dengan pemikiranku yang berbunyi "Aku mungkin bukan manusia sempurna tapi, aku akan selalu mencoba untuk menjadi yang terbaik." Bukan hanya aku yang mempunyai kehitaman di hidup ini, karena jika aku hanya melihat sebagian kehitamanku mungkin aku lupa sama adanya warna yang indah disana. Hidup ini tidak akan berjalan mundur, dia akan berjalan maju tanpa kita sadari. Dan apapun yang menghitamkan masa lalu-ku mungkin akan menjadi sebuah warna yang sangat indah di masa depanku.

   Pemikiran itu hadir di hidupku sampai hari ini dan membuat semua kehitaman itu menjadikannya sebuah warna dasar untuk aku warnai.



  


Rabu, 28 Januari 2015

Feels Like We Only Go Backwards

Cerita ini mungkin pernah di alami sebagian manusia, merasakan susuatu yang membuat keadaan gelisah dan berpikir bahwa sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi. Tanpa sadar akupun merasakaan keadaan itu. Sebut ia Firasat. Firasat yang kadang membuat seseorang menjadi gelisah tapi, kadang membuat sebuah kebahagian. Hal itulah yang ku alami. Setelah ia pergi meninggalkanku, tanpa sadar Firasat ku kepadanya sangatlah dalam. Pernah beberapa kali aku mengalami Firasat yang tidak menyenangkan tentang dia. Tapi aku terasadar, jika aku tak mungkin akan bertemunya lagi. Hanya melalui social media sajalah aku dapat melihatnya dan berharap tak ada lagi firasat yang merasuki otak dan hati ini. Ternayata Tuhan mepunyai jalannya sendiri. Setelah Kita berpisah, tepatnya di bulan April kita di pertemukan kembali.

     Di suatu malam yang biasa entah bagaimana Tuhan merencanakan hal itu. Tapi, semua Firasat tentang dia benar-benar nyata. Beberapa hari sebelum aku di pertemukan di salah satu pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Selatan, aku banyak mengalami Firasat yang membingungkan untuk diriku sendiri ataupun untuknya. Seperti malam-malam biasanya, aku pergi ke tempat dimana teman-temanku berada. Malam itu hatiku sedikit membingungkan. Aku mempunyai sebuah Firasat yang menyenangkan. Malam itu aku check salah satu social media miliknya. Ternyata dia baru saja memposting Photo di Instagram. Lalu, aku berpikir bahwa ia sepertinya ada di suatu tempat. Munculah satu pemikiran bahwa ia berada di satu pusat perbelanjaan yang tak jauh dari tempatku berada sekarang. Entah bagaimana aku memikirkan hal itu, tapi semua terasa benar. Setelah sampai, salah seorang temanku mengajak untuk pergi ke tempat dimana Ia berada dan berniat kita akan makan disana. Dengan tanpa basa basi aku langsung menyetujui ajakan tersebut.

Setelah aku sampai, aku langsung pergi ke tempat yang kita ingin tuju. Lalu, beberapa menit setelah aku sampai, pandanganku mengarah ke sesosok cowo kurus yang sangat aku kenal semua bagian tubuhnya. Tanpa sadar ternyata aku memanggil namanya, ia menoleh ke arahku dan langsung mendatangi diriku yang tegak berdiri. Kita saling bertatapan yang sangat lama dan saling tersenyum, aku tak bisa membohongi perasaanku jika, Aku senang melihatnya. Aku bahagia. Melihatnya dalam keadaan baik - baik saja itulah yang terpenting.

     Berawal dari sebuah percakapan yang basa - basi sampai percakapan berlanjut dan terus berlanjut. Sampai akhirnya aku membahas tentang permasalahan liburan yang cukup lama tapi, gatau akan  liburan sama siapa. Ternyata hal itu membuat ia membahas tentang Bandung lagi. Saat itu aku hanya bisa tersenyum dan berharap semoga semuanya benar-benar terjadi. Dan pertemuan singkat itu kita akhiri dengan kalimat See You Soon.

Terjadilah sebuah pemikiran yang tidak lagi menjadi sebuah pemikiran yang nyata. Pemikiran inipun membuat semua perasaan akan melupakan tentangnya dan semua kenangan, malah berganti dalam semalam menjadi sebuah pemikiran adanya harapan baru disana. Perasaan rasa kesal yang dulu pernah ada, berganti menjadi sebuah perasaan yang membuat aku kembali mengenal dia seperti pertama bertemu. Setelah pertemuan itu, beberapa kali dia Messages aku dan mengajak kita bertemu. Tapi, ia tidak ingin kita bertemu di rumahku. Aku bertanya kepada dia "Kenapa ?." Lalu Ia menjawab "Gue gak bisa ni, gue ngga bisa berada di satu tempat yang dulu Kita selalu disana." Okey aku tidak bisa memaksakan hal itu. Beberapa kali dia mengajak kita bertemu. Tapi, tak kulakukan karena waktunya kurang tepat.

     Di satu malam dia mengajak untuk bertemu. Saat itu aku berada dirumah. Aku berkata "Kalo emang lo mau ketemu gue, ya kesini aja. Kalo gak mau juga gakpapa!." Aku berpikir ia akan menolak pernyataan tersebut. Ternyata dia menyetujui hal itu. Malam itu aku dikagetkan oleh dia kembali. Iya benar, ia berada di depan rumahku. Ketika itu juga semua perasaan senang hadir merasuki hati. Lalu, kita sama-sama masuk kerumah. Setelah kita duduk bersama, hanya saling berpandangan yang kita lakukan. Dia lebih banyak diam. Sebuah kalimat muncul dari bibirku, " Hey, cerita dong ngapain aja selama lo ngilang kayak ninja?." Setelah pertanyaan itu ia langsung tersenyum dan menceritakan semua hal yang dilalui selama kita tidak bersama. Banyak hal yang membuat ku selalu merindunya. Percakapan yang sangat panjangpun berakhir setelah ku katakan bahwa salah satu sahabatku akan ke rumah. Karena malampun telah menjadi semakin larut akhirnya, ia memutuskan untuk pulang. Saat kita berada di depan rumah, ia bukan hanya langsung pergi seperti dulu. Tapi, ia mencium keningku dan langsung memeluk. Setelah itu Ia berkata, " Da, Ni." Setelah dia benar-benar menghilang dari pandanganku. Aku berpikir sejenak ternyata kehilangan dia adalah hal yang menyakitkan. Aku tak bisa. Aku tak mampu. 

      Pertemuan singkat penuh arti sering terjadi antara aku dan dia, entah mengapa ternyata hal itulah yang bisa membuat kita selalu kembali. Akhirnya, setelah pertemuan itu, kita menjalani hari-hari bersama dan membuat sebuah kenangan baru dan membuat kenangan itu selalu hadir sampai hari ini...










Jumat, 23 Januari 2015

Senandung Sunset


Sunset itu....
Terlalu indah untuk di lupakan,
Terlalu berwarna,
Terlalu orange,
Terlalu dirindukan, dan
Terlalu banyak cerita...

     Sunset yang bahasa indonesianya matahari terbenam ini, selalu membuat aku tenang. Setiapku melihatnya mata dan hati ini selalu merasa tenang. Ketenangan manusia mungkin berbeda-beda ada yang melihat Sunrise tenang, tidur membuat tenang, atau mungkin tidak masuk kuliah membuat lebih tenang. Walaupun banyak manusia di luar sana yang mengabaikan keindahannya. Tapi, aku sama sekali tidak bisa berpaling darinya. 

     Sunset itu sederhana, matahari yang bersinar cerah dan membuat sebuah warna menjadi kuning dan akhirnya lama kelamaan akan berubah menjadi orange. Lalu, warna itu akan menyatu dengan warna langit yaitu biru dan hitam. Pencampuran warna menyatu dengan baik disaat langit cerah tanpa adanya awan abu-abu yang berkeliaran. Sunset akan menyempurnakan setiap warna menjadi sebuah keindahan. Keindahannya membuat siapapun yang melihat tidak ingin berpaling. 

     Sunset tidak ingin di duakan, karena disaat dia hadir bersama keindahannya, ia tidak ingin padangan siapapun melihatnya beralih ke pandangan lain. Setiap detiknya ia mempuyai sebuah warna yang mengagumkan. Warna itu akan berubah secara perlahan dan cepat. Karena itulah ia tidak ingin kita menduakannya. Sekali kita beralih pandangan, ia akan merubah warna menjadi warna yang lain. Dia egois. Memang. Tapi, keegoisannya membuat kita bahagia.








Jumat, 16 Januari 2015

You come and go, You come and go



     Ada yang bilang sebelum ada kata Selamat tinggal, Semua itu belum berakhir. Tapi, kebanyakan orang berpendapat berbeda tentang hal itu. Aku disini mau Flashback kejadian Sebelum aku mengetahui bahwa ternyata cinta ku hanya sebatas "Canvas Putih." Okey semua berawal dari aku tau ku mencintainya bukan sekedar karena fisik, tapi karena Dia Berbeda. Berbeda dalam cara berpikir , cara dia berbicara, dan terpenting adalah disaat dia menceritakan berbagai pengalamannya kepadaku. 

Tiga bulan aku tak mendapat kabar dari dia. Waktu yang cukup lama buat aku merasa kesepian disaat dia menghilang. Dia menghilang tanpa meninggalkan jejak. Tanpa bersuara. Tanpa penjelasaan. Disaat itu juga aku merasa setengah jiwaku ikut menghilang. Sempat gak percaya bahwa aku akan merasakan kehilangan dia dengan cara begini. Aku mencoba menghubungi dia tapi dia gak pernah merespon apapun, malah lebih parahnya lagi aku sempat sakit ketika dia menghilang. Aku sedih, aku kecewa, aku marah. Tiga bulan telah berlalu, dan tuhan mempertemukan kita kembali. Semua terasa begitu tepat.

Pertemuan ini berawal dari dia menghubungi ku melalui telfon. Di hari sabtu yang sangat dingin itu, tak pernah terpikirkan ataupun berharap bertemu Dia. Tapi kenyataannya tidak begitu. Di hari itu aku  lagi asik bersama para sahabat makan di bilangan Jakarta Pusat, tepatnya di taman Suropati. Tiba-tiba dering telfon ku berbunyi, karena nomer dia sudah tak ada lagi, jadi aku tak tau jika ia yang menelfon. Mungkin kalo aku tau dia yang menelfon, aku akan spontan marah-marah atau mungkin akan lama mengangkat telfonnya. Dikarenakan aku akan menyusun strategi untuk ngomong sama Dia. Tapi, kenyataanya tak begitu. Dengan santainya aku mengangkat telfon Dia. Lalu, percakapan singkat penuh arti kembali hadir. Percakapan itu di awali dengan kalimat " Hallo, masih inget gue gak?." Aku menjawab " Ini siapa ?." Lalu, percakapan itu berakhir ketika Dia ingin kita bertemu. Okey, karena permasalahan ini harus segera dia selesaikan jadi ku putuskan untuk bertemu dengan Dia. 

     Setelah aku menghabiskan makan di taman Suropati, aku langsung menuju tempat yang kita setujui. Tapi, sebelumnya aku mengambil mobil dulu dirumah salah satu sahabatku. Okey, Perjalanan menuju dia sangatlah membingungkan, satu sisi aku sangat merindukan Dia dan ingin bertemu. Tapi, di sisi lain aku takut jika setelah pertemuan ini semuanya akan benar-benar berakhir. Keadaan itu membuat aku ingin cepat sampai dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Dari kejauhan pandangan ku mengarah ke sesosok cowo kurus, berambut hitam, dan berbadan coklat yang berada tepat di samping motor Vespa Putih. Disaat melihat itu aku  langsung merasa senang dan bahagia karena, akhirnya aku bisa melepaskan rindu yang telah lama merasuki jiwa ini. Hanya Rindu. Tapi, perasaan kesal di hati ku masih belum tak termaafkan. Salah satu pikiran yang ada di saat itu adalah " Mengapa dia harus menghilang tanpa berbicara apapun?."

Setelah aku sampai, Dia langsung masuk ke mobil. Saat itu juga aku merasakan ada sesuatu yang berbeda terjadi sama Dia. Dia lebih banyak diam. Karena, aku gak bisa boongin perasaan apa yang  ku  rasakan. Percakapan pertama yang keluar dari mulut ku adalah " Hai, Apa kabar ??, I miss you... . Dia langsung melihat ku dengan tatapan rasa sedih yang sangat dalam. Dan percakapan itu belanjut dan terus berlanjut, sampai akhirnya Dia membahas permasalahan yang sebenarnya terjadi. Dia memulai menjelaskan hal itu dengan kalimat, " Aku merasa bersalah banget ni sama Kamu. Aku juga selalu kepikiran atas kesalahan yang udah aku buat ke kamu!." Dan dengan spontan aku bertanya, 
" Jadi, kenapa kamu ninggalin aku gitu aja? tanpa ngasih penjelasaan apapun, Kenapa?? apa yang buat kamu gitu ke aku ? cewe lain ya ?," Pertanyaan itu langsung membuat dia diam dalam waktu yang cukup lama.

Cukup lama dia diam akhirnya dia mulai berbicara " Iya ni, emang awalnya gue deket sama cewe dan berpikir bahwa, " She's the one from me." Tapi, ternyata dia bukan seperti yang gue pikir. " Lo boleh kok marah-marah ke gue." Gue akan terima karena gue salah!. Keadaan itu membuat aku gak bisa boongin perasaan marah dan kecewa akan Dia, Aku meluapkan kemarahan dengan nada berbicara agak tinggi," Jadi, kenapa lo pergi kayak gini?," Seenaknya menghilang tanpa menjelaskan apapun!. Terus lo memblock LINE gue!, Unfriend gue di Path!, kenapa gak sekalian aja Unfollow Instagram gue?.  Mau lo apa sih?. 

Lalu, dia terdiam sambil mendengarkan aku selesai berbicara. Setelah itu, ia mengucapkan beberapa potong kalimat kepadaku , " Udah, ni?, gak mau marah-marah lagi?." Gakpapa kok kalo lo masih mau marahin gue. Dan pertanyaan itu aku jawab dengan kalimat, " Apa gunanya sih gue marah-marah sama lo!, kayaknya itu juga bukan penyelesain yang tepat buat masalah ini , dan sepertinya, itu hal yang gak akan merubah segalanya menjadi lebih baik, kan ?." Disini gue cuman pengen mendengarkan penjelasaan lo. Dan percakapan ini aku akhiri dengan kalimat, " Udah sekarang, gue cuman pengen tau apa sebenarnya yang terjadi!". "Okey ni, Jadi gini, Sebelumnya gue minta maaf dengan apa yang gue lakuin ke lo, gue merasa bersalah memperlakukan lo kayak gini.", Masalah gue memblock LINE lo dan Unfriend Path, itu semua karena cewe itu yang nyuruh. Gue cerita semua ke dia tentang hubungan antara kita. Jadi, dia mau kalo gue sama lo benar-benar gak berhubungan lagi. Tapi ternyata semua yang gue lakuin salah. Ternyata cewe itu bukan yang sebenarnya gue cari.

Perasaan ku saat itu sangat sakit, dengan spontan keluarlah kalimat " Oh jadi bener feeling gue selama ini!. " Dia satu kampus ya sama lo???," Dia menjawab "Iya!." Okey, karena penjelasan itu sangatlah jelas, gue langsung segera menyelesikan percakapan ini. Disaat itu juga, aku gak bisa membohongi diri ku jika aku kecewa. Iya aku kecewa, kecewa atas perilaku Dia yang seenaknya pergi. Tapi, karena dia udah mau minta maaf dan menjelaskan semua yang telah terjadi, aku harus bisa menerima semua kenyataan yang ada.

Akhirnya, aku memutuskan untuk mengakhiri percakapan ini dengan kalimat, " Lo tau gue selalu jujur sama lo kan?. Gue Cinta sama lo!". Tapi, gue gak memaksa lo untuk melakukan hal yang sama kok. Terpenting sekarang, gue udah tau apa yang sebenernya terjadi. Tapi, yang jelas gue seneng banget bisa bertemu sama manusia seperti lo, dan kenal sama lo sampai sejauh ini. Makasih juga atas semua waktu dan penjelasan lo malam ini, karena ini sangat berarti buat gue.

Lalu, sebuah kalimat terucap dari dirinya, "Ni, gue sekarang udah gak deket lagi sama cewe itu!", ataupun berhubungan dengan dia, dan sekarang gue gak nyuruh lo untuk pergi. Gue membuat dua pilihan!, lo mau kita Just Friend or Just Friend, but you know. Kayak dulu. Karena gue disini adalah cowo yang Yes, Man. Semua keputusan yang lo buat akan gue terima.

Pertanyaan itu membuat gue harus berpikir lebih dalam dan lebih panjang. Ternyata Dia hanya menganggap aku Just Friend?? What??. Di satu sisi sebenarnya aku gak bisa kehilangan Dia dan di sisi lain aku gak mau menjadi cewe yang menerima perlakukan seperti itu. Perlakuan yang membuat dia bisa datang dan pergi seenaknya. Lalu, sempat berpikir akan semua hal ini. Aku berpikir untuk gak boleh mencintai dia lebih besar dari kecintaan akan diri aku sendiri. Sebenernya yang aku mau bukan sekedar hanya di Cintai tapi aku mau di Hargai. Disaat itu juga aku berpikir untuk memafkan diri ku atas kenyataan yang telah terjadi antara aku dan Dia. Keputusan untuk menjadikan Dia hanya sebatas "Friend with some memories," adalah suatu keputusan yang menurut aku sangat tepat. Tapi ternyata hal itu membuat dia kaget dan spontan menanyakan kembali pertanyaan itu. Dia merasa gak yakin bahwa aku memutuskan hal semacam itu. Tapi kenyataannya memang begitu.

Malam telah berganti menjadi pagi. Pertemuan itu kita akhiri dengan kalimat " Hati-hati ya lo, jangan bandel-bandel. Okey!." Dan dia langsung memelukku lalu keluar dari mobil tanpa menoleh ke belakang. Disaat itu aku melihat dia dari belakang, dan merasakan kenyataan bahwa sekarang aku benar-benar kehilangan Dia. Lalu, berpikir bahwa sekarang aku hanya bisa menikmati semua tentang Dia sebatas punggungnya saja. Aku tak bisa menikmati dia lebih dari itu. Tapi, sesuatu perasaan yang aneh menghantui pikiranku. Di saat dia turun dari mobil, Dia benar-benar gak menoleh ke belakang ataupun mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya. Sampai-sampai tanpa sadar aku melihat dia menjadi semakin jauh dan jauh dari pandanganku. Saat tak ada lagi dia di pandangaku,  terjadilah sebuah pemikiran di otakku bahwa sepertinya ini belum berakhir. Aneh ?. Memang aneh. Lalu, semua terasa benar dan tepat.


Cerita ini memang belum sepenuhnya berakhir...Jadi, di suatu malam yang biasa lagi.  Aku dan Dia...???










Minggu, 11 Januari 2015

Canvas Putih

     Kisah ini adalah kisah yang tak akan pernah terlupa, kisah dimana aku benar-benar merasa jatuh cinta setiap harinya. Iya, aku jatuh cinta. Dialah seseorang Pria yang tak pernah kusangka-sangka. Semua terasa begitu indah saat ia selalu berada di sampingku. Dan kisah ini di awali oleh dia!. Jadi, setelah aku lulus sekolah menegah atas, Tuhan memberikanku seorang Pria yang tak pernah kusangka akan hadir mengisi Duniaku. Pria ini mempunyai segudang mimpi yang sama sepertiku. Mimpi-mimpi itu selalu terasa sampai sekarang. Aku tak mengenal Ia, aku hanya tau tentangnya. Saat ia hadir dan membawaku mengenalnya lebih jauh, aku terpana. 

     Cerita perkenalan ini berawal dari LINE. Tapi sayangnya cerita ini berbeda dengan kisah berlanjutnya AADC. Berharap ceritanya sebagus AADC tapi ternyata perjalanan cerita ini berbeda. Okey! kita bukan ngomongin Rangga atau Cinta. Jadi, semua kisah ini bermula dari dia add aku melalui LINE. Karena, aku tau bahwa dia seniorku di SMP, tanpa harus pikir panjang ku accept dengan cepat. Pertemanan di LINE itu berlanjut begitu saja sampai akhirnya kita chatting selama kurang lebih seminggu. Setelah mengetahui satu sama lain, suatu waktu ia meminta kita saling bertemu. Jujur aku penasaran dengannya, dan pertemuan itu aku setujui. Dia meminta kita bertemu hari Sabtu di daerah Pondok Indah tepatnya di PEPeNERO jam 2. Dengan pesan jika aku lewat sekitar setengah jam ia akan pergi. Dikarenakan ia harus menghadiri acara keluarganya di bilangan Lebak Bulus.

Dan suatu hari sabtu yang biasa aku berada dirumah bersama kasur, selimut dan benda mati lainnya, berniat akan menikmati hari Sabtu dirumah. Terlintas di pikiran bahwa hari ini  aku seperti melupakan sesuatu. Okey, aku berpikir lagi dan lagi yang akhirnya pikiran itu mengarah ke DIA!!!!!, saat itu juga aku langsung loncat dari kasur dan segera mandi. Lalu, bergegas pergi menemuinya. Ternyata Tuhan berkata lain, hari itu entah kenapa keadaan Jakarta tidak bersahabat, telatnya aku yang tak lama, malah membuat pertemuan pertama itu batal. Lalu, hari itu juga ia jutek dan mungkin akan memutuskan pertemanan ini. Okey, aku terima perlakuan dia. Tapi, mau gimana aku tak bisa mengulang keadaan yang telah terjadi.

     Satu minggu beralu, aku menyangka pertemanan ini akan berakhir begitu saja, namun ternyata bukannya berakhir tapi malah berlanjut. Di hari minggu yang biasa itu LINE ku berbunyi. Tak terpikirkan olehku jika ia menghubungi, namanya muncul di layar Hp-ku, dengan keadaan tak percaya aku langsung cepat membalas. LINE itu berisi perkataan singkat penuh arti. Dia berkata "Hi, gue masih punya janji ke bandung sama lo nih!." Lalu, dengan santainya aku menjawab, "Iya emang! ternyata lo inget." Chat kita berlanjut dan berakhir di Share Location rumahku, walaupun Ia bilang mau numpang mandi tapi, aku tau jika itu hanya alasan semata. Satu jam berlalu dan dering LINE berbunyi. "Hi, nyampe nih!." Aku langsung kebawah dan membukakannya pintu. Saat ia turun dari mobil, aku langsung menyambutnya dengan senyuman.

     Setelah pertemuan pertama yang sangat lama, akhirnya pertemuan itu berlanjut dan terus berlanjut. Tak disangka-disangka ternyata kita menghabiskan hampir sekitar 180 hari bersama. Tanpa di sadari juga, kita bertemu hampir setiap hari, setiap minggu, dan setiap bulan. Hari-hari itu ku lalui tanpa sedikitpun rasa sedih. Melakukan banyak hal gila bersamanya adalah hal terindah yang pernah ada. Ternyata aku menyukai ia lebih dari sekedar pertemanan. Di saat bersamanya hidupku selalu terasa bahagia. Sempat telintas di pikiran dan hatiku, jika dialah Pangeran yang selama ini aku impikan. Entah bagaimana perasaan itu hadir. Tapi yang ku tau disaat bersamanya, aku tak pernah takut menumpahkan ide dan isi otak di atas Canvas Putih dan bersama Dia juga mimpiku terasa nyata dan semakin dekat. Bermula dari ia mengubah hari-hariku. Hidupku semakin berwarna. Dialah Pria yang membuat Canvas Putih miliku akan selalu berwarna sampai hari ini. Tapi kenyataannya perasaan Dia terhadapku hanya sebatas Canvas Putih. Lalu, kisah setengah tahun ini diakhiri oleh Dia!.


DIA adalah dia...
DIA yang pertama kali mengisi canvas-canvas putihku
DIA membuat semua canvas putih ini berwarna dan tak akan pernah kosong
DIA yang membuat semua mimpiku terasa nyata
DIA yang hidupkan diriku disaatku terasa mati tapi,
DIA juga yang membuat hatiku sedih ketika mengenang DIA.







Jumat, 09 Januari 2015

Kadang galau itu indah

    Hai galau, hai pembuat galau, hai yang entah dimana kamu berada. Terima kasih udah memberikan inspirasi yang banyak buatku. Kamu segalanya buat hidupku, Karena kamu yang membuat semua Canvas Putih tak akan pernah kosong lagi. 

     Di satu hari aku galau setengah abad dan semua tentang dia hadir di otakku. Setiap hari hanya dia dan seluruh kenangannya merasuki pikiran dan hatiku. Sampai-sampai bertanya kepada diri sendiri "Apa yang terjadi?." Tiba-tiba suatu hari siang bolong nan panas Jakarta, aku terpikirkan apa yang harus kulakukan? berpikir sejenak, mau bikin puisi tapi gak bisa sepuitis itu dan akhirnya pikiran mentok di Canvas Putih. Okey, aku berpikir akan melukis semua tentang Dia, dan berharap suatu hari ia akan tersadar semua karya yang aku buat untuknya!. Tapi ternyata harapan itu bukan sekedar harapan. 
       
          
                 






Berawal

     Berawal dari tidur malam yang lelap , Tiba-tiba seuatu pagi datang dan membawa sebuah perilaku mengagetkan. Hal itu membawa sebuah keindahan dan kenyamanan di hidupku yaitu Melukis. Awalnya keinginan melukis itu datang saat rasa sepi menghampiriku. Tanpa di sangka ternyata telah kuhabiskan hampir 2 tahun di Dunia ini. Aku tidak pernah menyangka akan berada di Dunia ini. Namun, Dunia ini telah merubah isi otakku, dengan ia memberika sebuah karya. Saat kuas mewarnai Canvasnya aku merasakan kehidupanku disana. Aku bahagia.



Where the words fail, Music Speaks.






hallo :)

Hallo blogger nice to meet you :) blog ini untuk membagikan semua isi otak dan perasaanku melalui ART! .