Rabu, 28 Januari 2015

Feels Like We Only Go Backwards

Cerita ini mungkin pernah di alami sebagian manusia, merasakan susuatu yang membuat keadaan gelisah dan berpikir bahwa sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi. Tanpa sadar akupun merasakaan keadaan itu. Sebut ia Firasat. Firasat yang kadang membuat seseorang menjadi gelisah tapi, kadang membuat sebuah kebahagian. Hal itulah yang ku alami. Setelah ia pergi meninggalkanku, tanpa sadar Firasat ku kepadanya sangatlah dalam. Pernah beberapa kali aku mengalami Firasat yang tidak menyenangkan tentang dia. Tapi aku terasadar, jika aku tak mungkin akan bertemunya lagi. Hanya melalui social media sajalah aku dapat melihatnya dan berharap tak ada lagi firasat yang merasuki otak dan hati ini. Ternayata Tuhan mepunyai jalannya sendiri. Setelah Kita berpisah, tepatnya di bulan April kita di pertemukan kembali.

     Di suatu malam yang biasa entah bagaimana Tuhan merencanakan hal itu. Tapi, semua Firasat tentang dia benar-benar nyata. Beberapa hari sebelum aku di pertemukan di salah satu pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Selatan, aku banyak mengalami Firasat yang membingungkan untuk diriku sendiri ataupun untuknya. Seperti malam-malam biasanya, aku pergi ke tempat dimana teman-temanku berada. Malam itu hatiku sedikit membingungkan. Aku mempunyai sebuah Firasat yang menyenangkan. Malam itu aku check salah satu social media miliknya. Ternyata dia baru saja memposting Photo di Instagram. Lalu, aku berpikir bahwa ia sepertinya ada di suatu tempat. Munculah satu pemikiran bahwa ia berada di satu pusat perbelanjaan yang tak jauh dari tempatku berada sekarang. Entah bagaimana aku memikirkan hal itu, tapi semua terasa benar. Setelah sampai, salah seorang temanku mengajak untuk pergi ke tempat dimana Ia berada dan berniat kita akan makan disana. Dengan tanpa basa basi aku langsung menyetujui ajakan tersebut.

Setelah aku sampai, aku langsung pergi ke tempat yang kita ingin tuju. Lalu, beberapa menit setelah aku sampai, pandanganku mengarah ke sesosok cowo kurus yang sangat aku kenal semua bagian tubuhnya. Tanpa sadar ternyata aku memanggil namanya, ia menoleh ke arahku dan langsung mendatangi diriku yang tegak berdiri. Kita saling bertatapan yang sangat lama dan saling tersenyum, aku tak bisa membohongi perasaanku jika, Aku senang melihatnya. Aku bahagia. Melihatnya dalam keadaan baik - baik saja itulah yang terpenting.

     Berawal dari sebuah percakapan yang basa - basi sampai percakapan berlanjut dan terus berlanjut. Sampai akhirnya aku membahas tentang permasalahan liburan yang cukup lama tapi, gatau akan  liburan sama siapa. Ternyata hal itu membuat ia membahas tentang Bandung lagi. Saat itu aku hanya bisa tersenyum dan berharap semoga semuanya benar-benar terjadi. Dan pertemuan singkat itu kita akhiri dengan kalimat See You Soon.

Terjadilah sebuah pemikiran yang tidak lagi menjadi sebuah pemikiran yang nyata. Pemikiran inipun membuat semua perasaan akan melupakan tentangnya dan semua kenangan, malah berganti dalam semalam menjadi sebuah pemikiran adanya harapan baru disana. Perasaan rasa kesal yang dulu pernah ada, berganti menjadi sebuah perasaan yang membuat aku kembali mengenal dia seperti pertama bertemu. Setelah pertemuan itu, beberapa kali dia Messages aku dan mengajak kita bertemu. Tapi, ia tidak ingin kita bertemu di rumahku. Aku bertanya kepada dia "Kenapa ?." Lalu Ia menjawab "Gue gak bisa ni, gue ngga bisa berada di satu tempat yang dulu Kita selalu disana." Okey aku tidak bisa memaksakan hal itu. Beberapa kali dia mengajak kita bertemu. Tapi, tak kulakukan karena waktunya kurang tepat.

     Di satu malam dia mengajak untuk bertemu. Saat itu aku berada dirumah. Aku berkata "Kalo emang lo mau ketemu gue, ya kesini aja. Kalo gak mau juga gakpapa!." Aku berpikir ia akan menolak pernyataan tersebut. Ternyata dia menyetujui hal itu. Malam itu aku dikagetkan oleh dia kembali. Iya benar, ia berada di depan rumahku. Ketika itu juga semua perasaan senang hadir merasuki hati. Lalu, kita sama-sama masuk kerumah. Setelah kita duduk bersama, hanya saling berpandangan yang kita lakukan. Dia lebih banyak diam. Sebuah kalimat muncul dari bibirku, " Hey, cerita dong ngapain aja selama lo ngilang kayak ninja?." Setelah pertanyaan itu ia langsung tersenyum dan menceritakan semua hal yang dilalui selama kita tidak bersama. Banyak hal yang membuat ku selalu merindunya. Percakapan yang sangat panjangpun berakhir setelah ku katakan bahwa salah satu sahabatku akan ke rumah. Karena malampun telah menjadi semakin larut akhirnya, ia memutuskan untuk pulang. Saat kita berada di depan rumah, ia bukan hanya langsung pergi seperti dulu. Tapi, ia mencium keningku dan langsung memeluk. Setelah itu Ia berkata, " Da, Ni." Setelah dia benar-benar menghilang dari pandanganku. Aku berpikir sejenak ternyata kehilangan dia adalah hal yang menyakitkan. Aku tak bisa. Aku tak mampu. 

      Pertemuan singkat penuh arti sering terjadi antara aku dan dia, entah mengapa ternyata hal itulah yang bisa membuat kita selalu kembali. Akhirnya, setelah pertemuan itu, kita menjalani hari-hari bersama dan membuat sebuah kenangan baru dan membuat kenangan itu selalu hadir sampai hari ini...










Jumat, 23 Januari 2015

Senandung Sunset


Sunset itu....
Terlalu indah untuk di lupakan,
Terlalu berwarna,
Terlalu orange,
Terlalu dirindukan, dan
Terlalu banyak cerita...

     Sunset yang bahasa indonesianya matahari terbenam ini, selalu membuat aku tenang. Setiapku melihatnya mata dan hati ini selalu merasa tenang. Ketenangan manusia mungkin berbeda-beda ada yang melihat Sunrise tenang, tidur membuat tenang, atau mungkin tidak masuk kuliah membuat lebih tenang. Walaupun banyak manusia di luar sana yang mengabaikan keindahannya. Tapi, aku sama sekali tidak bisa berpaling darinya. 

     Sunset itu sederhana, matahari yang bersinar cerah dan membuat sebuah warna menjadi kuning dan akhirnya lama kelamaan akan berubah menjadi orange. Lalu, warna itu akan menyatu dengan warna langit yaitu biru dan hitam. Pencampuran warna menyatu dengan baik disaat langit cerah tanpa adanya awan abu-abu yang berkeliaran. Sunset akan menyempurnakan setiap warna menjadi sebuah keindahan. Keindahannya membuat siapapun yang melihat tidak ingin berpaling. 

     Sunset tidak ingin di duakan, karena disaat dia hadir bersama keindahannya, ia tidak ingin padangan siapapun melihatnya beralih ke pandangan lain. Setiap detiknya ia mempuyai sebuah warna yang mengagumkan. Warna itu akan berubah secara perlahan dan cepat. Karena itulah ia tidak ingin kita menduakannya. Sekali kita beralih pandangan, ia akan merubah warna menjadi warna yang lain. Dia egois. Memang. Tapi, keegoisannya membuat kita bahagia.








Jumat, 16 Januari 2015

You come and go, You come and go



     Ada yang bilang sebelum ada kata Selamat tinggal, Semua itu belum berakhir. Tapi, kebanyakan orang berpendapat berbeda tentang hal itu. Aku disini mau Flashback kejadian Sebelum aku mengetahui bahwa ternyata cinta ku hanya sebatas "Canvas Putih." Okey semua berawal dari aku tau ku mencintainya bukan sekedar karena fisik, tapi karena Dia Berbeda. Berbeda dalam cara berpikir , cara dia berbicara, dan terpenting adalah disaat dia menceritakan berbagai pengalamannya kepadaku. 

Tiga bulan aku tak mendapat kabar dari dia. Waktu yang cukup lama buat aku merasa kesepian disaat dia menghilang. Dia menghilang tanpa meninggalkan jejak. Tanpa bersuara. Tanpa penjelasaan. Disaat itu juga aku merasa setengah jiwaku ikut menghilang. Sempat gak percaya bahwa aku akan merasakan kehilangan dia dengan cara begini. Aku mencoba menghubungi dia tapi dia gak pernah merespon apapun, malah lebih parahnya lagi aku sempat sakit ketika dia menghilang. Aku sedih, aku kecewa, aku marah. Tiga bulan telah berlalu, dan tuhan mempertemukan kita kembali. Semua terasa begitu tepat.

Pertemuan ini berawal dari dia menghubungi ku melalui telfon. Di hari sabtu yang sangat dingin itu, tak pernah terpikirkan ataupun berharap bertemu Dia. Tapi kenyataannya tidak begitu. Di hari itu aku  lagi asik bersama para sahabat makan di bilangan Jakarta Pusat, tepatnya di taman Suropati. Tiba-tiba dering telfon ku berbunyi, karena nomer dia sudah tak ada lagi, jadi aku tak tau jika ia yang menelfon. Mungkin kalo aku tau dia yang menelfon, aku akan spontan marah-marah atau mungkin akan lama mengangkat telfonnya. Dikarenakan aku akan menyusun strategi untuk ngomong sama Dia. Tapi, kenyataanya tak begitu. Dengan santainya aku mengangkat telfon Dia. Lalu, percakapan singkat penuh arti kembali hadir. Percakapan itu di awali dengan kalimat " Hallo, masih inget gue gak?." Aku menjawab " Ini siapa ?." Lalu, percakapan itu berakhir ketika Dia ingin kita bertemu. Okey, karena permasalahan ini harus segera dia selesaikan jadi ku putuskan untuk bertemu dengan Dia. 

     Setelah aku menghabiskan makan di taman Suropati, aku langsung menuju tempat yang kita setujui. Tapi, sebelumnya aku mengambil mobil dulu dirumah salah satu sahabatku. Okey, Perjalanan menuju dia sangatlah membingungkan, satu sisi aku sangat merindukan Dia dan ingin bertemu. Tapi, di sisi lain aku takut jika setelah pertemuan ini semuanya akan benar-benar berakhir. Keadaan itu membuat aku ingin cepat sampai dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Dari kejauhan pandangan ku mengarah ke sesosok cowo kurus, berambut hitam, dan berbadan coklat yang berada tepat di samping motor Vespa Putih. Disaat melihat itu aku  langsung merasa senang dan bahagia karena, akhirnya aku bisa melepaskan rindu yang telah lama merasuki jiwa ini. Hanya Rindu. Tapi, perasaan kesal di hati ku masih belum tak termaafkan. Salah satu pikiran yang ada di saat itu adalah " Mengapa dia harus menghilang tanpa berbicara apapun?."

Setelah aku sampai, Dia langsung masuk ke mobil. Saat itu juga aku merasakan ada sesuatu yang berbeda terjadi sama Dia. Dia lebih banyak diam. Karena, aku gak bisa boongin perasaan apa yang  ku  rasakan. Percakapan pertama yang keluar dari mulut ku adalah " Hai, Apa kabar ??, I miss you... . Dia langsung melihat ku dengan tatapan rasa sedih yang sangat dalam. Dan percakapan itu belanjut dan terus berlanjut, sampai akhirnya Dia membahas permasalahan yang sebenarnya terjadi. Dia memulai menjelaskan hal itu dengan kalimat, " Aku merasa bersalah banget ni sama Kamu. Aku juga selalu kepikiran atas kesalahan yang udah aku buat ke kamu!." Dan dengan spontan aku bertanya, 
" Jadi, kenapa kamu ninggalin aku gitu aja? tanpa ngasih penjelasaan apapun, Kenapa?? apa yang buat kamu gitu ke aku ? cewe lain ya ?," Pertanyaan itu langsung membuat dia diam dalam waktu yang cukup lama.

Cukup lama dia diam akhirnya dia mulai berbicara " Iya ni, emang awalnya gue deket sama cewe dan berpikir bahwa, " She's the one from me." Tapi, ternyata dia bukan seperti yang gue pikir. " Lo boleh kok marah-marah ke gue." Gue akan terima karena gue salah!. Keadaan itu membuat aku gak bisa boongin perasaan marah dan kecewa akan Dia, Aku meluapkan kemarahan dengan nada berbicara agak tinggi," Jadi, kenapa lo pergi kayak gini?," Seenaknya menghilang tanpa menjelaskan apapun!. Terus lo memblock LINE gue!, Unfriend gue di Path!, kenapa gak sekalian aja Unfollow Instagram gue?.  Mau lo apa sih?. 

Lalu, dia terdiam sambil mendengarkan aku selesai berbicara. Setelah itu, ia mengucapkan beberapa potong kalimat kepadaku , " Udah, ni?, gak mau marah-marah lagi?." Gakpapa kok kalo lo masih mau marahin gue. Dan pertanyaan itu aku jawab dengan kalimat, " Apa gunanya sih gue marah-marah sama lo!, kayaknya itu juga bukan penyelesain yang tepat buat masalah ini , dan sepertinya, itu hal yang gak akan merubah segalanya menjadi lebih baik, kan ?." Disini gue cuman pengen mendengarkan penjelasaan lo. Dan percakapan ini aku akhiri dengan kalimat, " Udah sekarang, gue cuman pengen tau apa sebenarnya yang terjadi!". "Okey ni, Jadi gini, Sebelumnya gue minta maaf dengan apa yang gue lakuin ke lo, gue merasa bersalah memperlakukan lo kayak gini.", Masalah gue memblock LINE lo dan Unfriend Path, itu semua karena cewe itu yang nyuruh. Gue cerita semua ke dia tentang hubungan antara kita. Jadi, dia mau kalo gue sama lo benar-benar gak berhubungan lagi. Tapi ternyata semua yang gue lakuin salah. Ternyata cewe itu bukan yang sebenarnya gue cari.

Perasaan ku saat itu sangat sakit, dengan spontan keluarlah kalimat " Oh jadi bener feeling gue selama ini!. " Dia satu kampus ya sama lo???," Dia menjawab "Iya!." Okey, karena penjelasan itu sangatlah jelas, gue langsung segera menyelesikan percakapan ini. Disaat itu juga, aku gak bisa membohongi diri ku jika aku kecewa. Iya aku kecewa, kecewa atas perilaku Dia yang seenaknya pergi. Tapi, karena dia udah mau minta maaf dan menjelaskan semua yang telah terjadi, aku harus bisa menerima semua kenyataan yang ada.

Akhirnya, aku memutuskan untuk mengakhiri percakapan ini dengan kalimat, " Lo tau gue selalu jujur sama lo kan?. Gue Cinta sama lo!". Tapi, gue gak memaksa lo untuk melakukan hal yang sama kok. Terpenting sekarang, gue udah tau apa yang sebenernya terjadi. Tapi, yang jelas gue seneng banget bisa bertemu sama manusia seperti lo, dan kenal sama lo sampai sejauh ini. Makasih juga atas semua waktu dan penjelasan lo malam ini, karena ini sangat berarti buat gue.

Lalu, sebuah kalimat terucap dari dirinya, "Ni, gue sekarang udah gak deket lagi sama cewe itu!", ataupun berhubungan dengan dia, dan sekarang gue gak nyuruh lo untuk pergi. Gue membuat dua pilihan!, lo mau kita Just Friend or Just Friend, but you know. Kayak dulu. Karena gue disini adalah cowo yang Yes, Man. Semua keputusan yang lo buat akan gue terima.

Pertanyaan itu membuat gue harus berpikir lebih dalam dan lebih panjang. Ternyata Dia hanya menganggap aku Just Friend?? What??. Di satu sisi sebenarnya aku gak bisa kehilangan Dia dan di sisi lain aku gak mau menjadi cewe yang menerima perlakukan seperti itu. Perlakuan yang membuat dia bisa datang dan pergi seenaknya. Lalu, sempat berpikir akan semua hal ini. Aku berpikir untuk gak boleh mencintai dia lebih besar dari kecintaan akan diri aku sendiri. Sebenernya yang aku mau bukan sekedar hanya di Cintai tapi aku mau di Hargai. Disaat itu juga aku berpikir untuk memafkan diri ku atas kenyataan yang telah terjadi antara aku dan Dia. Keputusan untuk menjadikan Dia hanya sebatas "Friend with some memories," adalah suatu keputusan yang menurut aku sangat tepat. Tapi ternyata hal itu membuat dia kaget dan spontan menanyakan kembali pertanyaan itu. Dia merasa gak yakin bahwa aku memutuskan hal semacam itu. Tapi kenyataannya memang begitu.

Malam telah berganti menjadi pagi. Pertemuan itu kita akhiri dengan kalimat " Hati-hati ya lo, jangan bandel-bandel. Okey!." Dan dia langsung memelukku lalu keluar dari mobil tanpa menoleh ke belakang. Disaat itu aku melihat dia dari belakang, dan merasakan kenyataan bahwa sekarang aku benar-benar kehilangan Dia. Lalu, berpikir bahwa sekarang aku hanya bisa menikmati semua tentang Dia sebatas punggungnya saja. Aku tak bisa menikmati dia lebih dari itu. Tapi, sesuatu perasaan yang aneh menghantui pikiranku. Di saat dia turun dari mobil, Dia benar-benar gak menoleh ke belakang ataupun mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya. Sampai-sampai tanpa sadar aku melihat dia menjadi semakin jauh dan jauh dari pandanganku. Saat tak ada lagi dia di pandangaku,  terjadilah sebuah pemikiran di otakku bahwa sepertinya ini belum berakhir. Aneh ?. Memang aneh. Lalu, semua terasa benar dan tepat.


Cerita ini memang belum sepenuhnya berakhir...Jadi, di suatu malam yang biasa lagi.  Aku dan Dia...???










Minggu, 11 Januari 2015

Canvas Putih

     Kisah ini adalah kisah yang tak akan pernah terlupa, kisah dimana aku benar-benar merasa jatuh cinta setiap harinya. Iya, aku jatuh cinta. Dialah seseorang Pria yang tak pernah kusangka-sangka. Semua terasa begitu indah saat ia selalu berada di sampingku. Dan kisah ini di awali oleh dia!. Jadi, setelah aku lulus sekolah menegah atas, Tuhan memberikanku seorang Pria yang tak pernah kusangka akan hadir mengisi Duniaku. Pria ini mempunyai segudang mimpi yang sama sepertiku. Mimpi-mimpi itu selalu terasa sampai sekarang. Aku tak mengenal Ia, aku hanya tau tentangnya. Saat ia hadir dan membawaku mengenalnya lebih jauh, aku terpana. 

     Cerita perkenalan ini berawal dari LINE. Tapi sayangnya cerita ini berbeda dengan kisah berlanjutnya AADC. Berharap ceritanya sebagus AADC tapi ternyata perjalanan cerita ini berbeda. Okey! kita bukan ngomongin Rangga atau Cinta. Jadi, semua kisah ini bermula dari dia add aku melalui LINE. Karena, aku tau bahwa dia seniorku di SMP, tanpa harus pikir panjang ku accept dengan cepat. Pertemanan di LINE itu berlanjut begitu saja sampai akhirnya kita chatting selama kurang lebih seminggu. Setelah mengetahui satu sama lain, suatu waktu ia meminta kita saling bertemu. Jujur aku penasaran dengannya, dan pertemuan itu aku setujui. Dia meminta kita bertemu hari Sabtu di daerah Pondok Indah tepatnya di PEPeNERO jam 2. Dengan pesan jika aku lewat sekitar setengah jam ia akan pergi. Dikarenakan ia harus menghadiri acara keluarganya di bilangan Lebak Bulus.

Dan suatu hari sabtu yang biasa aku berada dirumah bersama kasur, selimut dan benda mati lainnya, berniat akan menikmati hari Sabtu dirumah. Terlintas di pikiran bahwa hari ini  aku seperti melupakan sesuatu. Okey, aku berpikir lagi dan lagi yang akhirnya pikiran itu mengarah ke DIA!!!!!, saat itu juga aku langsung loncat dari kasur dan segera mandi. Lalu, bergegas pergi menemuinya. Ternyata Tuhan berkata lain, hari itu entah kenapa keadaan Jakarta tidak bersahabat, telatnya aku yang tak lama, malah membuat pertemuan pertama itu batal. Lalu, hari itu juga ia jutek dan mungkin akan memutuskan pertemanan ini. Okey, aku terima perlakuan dia. Tapi, mau gimana aku tak bisa mengulang keadaan yang telah terjadi.

     Satu minggu beralu, aku menyangka pertemanan ini akan berakhir begitu saja, namun ternyata bukannya berakhir tapi malah berlanjut. Di hari minggu yang biasa itu LINE ku berbunyi. Tak terpikirkan olehku jika ia menghubungi, namanya muncul di layar Hp-ku, dengan keadaan tak percaya aku langsung cepat membalas. LINE itu berisi perkataan singkat penuh arti. Dia berkata "Hi, gue masih punya janji ke bandung sama lo nih!." Lalu, dengan santainya aku menjawab, "Iya emang! ternyata lo inget." Chat kita berlanjut dan berakhir di Share Location rumahku, walaupun Ia bilang mau numpang mandi tapi, aku tau jika itu hanya alasan semata. Satu jam berlalu dan dering LINE berbunyi. "Hi, nyampe nih!." Aku langsung kebawah dan membukakannya pintu. Saat ia turun dari mobil, aku langsung menyambutnya dengan senyuman.

     Setelah pertemuan pertama yang sangat lama, akhirnya pertemuan itu berlanjut dan terus berlanjut. Tak disangka-disangka ternyata kita menghabiskan hampir sekitar 180 hari bersama. Tanpa di sadari juga, kita bertemu hampir setiap hari, setiap minggu, dan setiap bulan. Hari-hari itu ku lalui tanpa sedikitpun rasa sedih. Melakukan banyak hal gila bersamanya adalah hal terindah yang pernah ada. Ternyata aku menyukai ia lebih dari sekedar pertemanan. Di saat bersamanya hidupku selalu terasa bahagia. Sempat telintas di pikiran dan hatiku, jika dialah Pangeran yang selama ini aku impikan. Entah bagaimana perasaan itu hadir. Tapi yang ku tau disaat bersamanya, aku tak pernah takut menumpahkan ide dan isi otak di atas Canvas Putih dan bersama Dia juga mimpiku terasa nyata dan semakin dekat. Bermula dari ia mengubah hari-hariku. Hidupku semakin berwarna. Dialah Pria yang membuat Canvas Putih miliku akan selalu berwarna sampai hari ini. Tapi kenyataannya perasaan Dia terhadapku hanya sebatas Canvas Putih. Lalu, kisah setengah tahun ini diakhiri oleh Dia!.


DIA adalah dia...
DIA yang pertama kali mengisi canvas-canvas putihku
DIA membuat semua canvas putih ini berwarna dan tak akan pernah kosong
DIA yang membuat semua mimpiku terasa nyata
DIA yang hidupkan diriku disaatku terasa mati tapi,
DIA juga yang membuat hatiku sedih ketika mengenang DIA.







Jumat, 09 Januari 2015

Kadang galau itu indah

    Hai galau, hai pembuat galau, hai yang entah dimana kamu berada. Terima kasih udah memberikan inspirasi yang banyak buatku. Kamu segalanya buat hidupku, Karena kamu yang membuat semua Canvas Putih tak akan pernah kosong lagi. 

     Di satu hari aku galau setengah abad dan semua tentang dia hadir di otakku. Setiap hari hanya dia dan seluruh kenangannya merasuki pikiran dan hatiku. Sampai-sampai bertanya kepada diri sendiri "Apa yang terjadi?." Tiba-tiba suatu hari siang bolong nan panas Jakarta, aku terpikirkan apa yang harus kulakukan? berpikir sejenak, mau bikin puisi tapi gak bisa sepuitis itu dan akhirnya pikiran mentok di Canvas Putih. Okey, aku berpikir akan melukis semua tentang Dia, dan berharap suatu hari ia akan tersadar semua karya yang aku buat untuknya!. Tapi ternyata harapan itu bukan sekedar harapan. 
       
          
                 






Berawal

     Berawal dari tidur malam yang lelap , Tiba-tiba seuatu pagi datang dan membawa sebuah perilaku mengagetkan. Hal itu membawa sebuah keindahan dan kenyamanan di hidupku yaitu Melukis. Awalnya keinginan melukis itu datang saat rasa sepi menghampiriku. Tanpa di sangka ternyata telah kuhabiskan hampir 2 tahun di Dunia ini. Aku tidak pernah menyangka akan berada di Dunia ini. Namun, Dunia ini telah merubah isi otakku, dengan ia memberika sebuah karya. Saat kuas mewarnai Canvasnya aku merasakan kehidupanku disana. Aku bahagia.



Where the words fail, Music Speaks.






hallo :)

Hallo blogger nice to meet you :) blog ini untuk membagikan semua isi otak dan perasaanku melalui ART! .