Minggu, 11 Januari 2015

Canvas Putih

     Kisah ini adalah kisah yang tak akan pernah terlupa, kisah dimana aku benar-benar merasa jatuh cinta setiap harinya. Iya, aku jatuh cinta. Dialah seseorang Pria yang tak pernah kusangka-sangka. Semua terasa begitu indah saat ia selalu berada di sampingku. Dan kisah ini di awali oleh dia!. Jadi, setelah aku lulus sekolah menegah atas, Tuhan memberikanku seorang Pria yang tak pernah kusangka akan hadir mengisi Duniaku. Pria ini mempunyai segudang mimpi yang sama sepertiku. Mimpi-mimpi itu selalu terasa sampai sekarang. Aku tak mengenal Ia, aku hanya tau tentangnya. Saat ia hadir dan membawaku mengenalnya lebih jauh, aku terpana. 

     Cerita perkenalan ini berawal dari LINE. Tapi sayangnya cerita ini berbeda dengan kisah berlanjutnya AADC. Berharap ceritanya sebagus AADC tapi ternyata perjalanan cerita ini berbeda. Okey! kita bukan ngomongin Rangga atau Cinta. Jadi, semua kisah ini bermula dari dia add aku melalui LINE. Karena, aku tau bahwa dia seniorku di SMP, tanpa harus pikir panjang ku accept dengan cepat. Pertemanan di LINE itu berlanjut begitu saja sampai akhirnya kita chatting selama kurang lebih seminggu. Setelah mengetahui satu sama lain, suatu waktu ia meminta kita saling bertemu. Jujur aku penasaran dengannya, dan pertemuan itu aku setujui. Dia meminta kita bertemu hari Sabtu di daerah Pondok Indah tepatnya di PEPeNERO jam 2. Dengan pesan jika aku lewat sekitar setengah jam ia akan pergi. Dikarenakan ia harus menghadiri acara keluarganya di bilangan Lebak Bulus.

Dan suatu hari sabtu yang biasa aku berada dirumah bersama kasur, selimut dan benda mati lainnya, berniat akan menikmati hari Sabtu dirumah. Terlintas di pikiran bahwa hari ini  aku seperti melupakan sesuatu. Okey, aku berpikir lagi dan lagi yang akhirnya pikiran itu mengarah ke DIA!!!!!, saat itu juga aku langsung loncat dari kasur dan segera mandi. Lalu, bergegas pergi menemuinya. Ternyata Tuhan berkata lain, hari itu entah kenapa keadaan Jakarta tidak bersahabat, telatnya aku yang tak lama, malah membuat pertemuan pertama itu batal. Lalu, hari itu juga ia jutek dan mungkin akan memutuskan pertemanan ini. Okey, aku terima perlakuan dia. Tapi, mau gimana aku tak bisa mengulang keadaan yang telah terjadi.

     Satu minggu beralu, aku menyangka pertemanan ini akan berakhir begitu saja, namun ternyata bukannya berakhir tapi malah berlanjut. Di hari minggu yang biasa itu LINE ku berbunyi. Tak terpikirkan olehku jika ia menghubungi, namanya muncul di layar Hp-ku, dengan keadaan tak percaya aku langsung cepat membalas. LINE itu berisi perkataan singkat penuh arti. Dia berkata "Hi, gue masih punya janji ke bandung sama lo nih!." Lalu, dengan santainya aku menjawab, "Iya emang! ternyata lo inget." Chat kita berlanjut dan berakhir di Share Location rumahku, walaupun Ia bilang mau numpang mandi tapi, aku tau jika itu hanya alasan semata. Satu jam berlalu dan dering LINE berbunyi. "Hi, nyampe nih!." Aku langsung kebawah dan membukakannya pintu. Saat ia turun dari mobil, aku langsung menyambutnya dengan senyuman.

     Setelah pertemuan pertama yang sangat lama, akhirnya pertemuan itu berlanjut dan terus berlanjut. Tak disangka-disangka ternyata kita menghabiskan hampir sekitar 180 hari bersama. Tanpa di sadari juga, kita bertemu hampir setiap hari, setiap minggu, dan setiap bulan. Hari-hari itu ku lalui tanpa sedikitpun rasa sedih. Melakukan banyak hal gila bersamanya adalah hal terindah yang pernah ada. Ternyata aku menyukai ia lebih dari sekedar pertemanan. Di saat bersamanya hidupku selalu terasa bahagia. Sempat telintas di pikiran dan hatiku, jika dialah Pangeran yang selama ini aku impikan. Entah bagaimana perasaan itu hadir. Tapi yang ku tau disaat bersamanya, aku tak pernah takut menumpahkan ide dan isi otak di atas Canvas Putih dan bersama Dia juga mimpiku terasa nyata dan semakin dekat. Bermula dari ia mengubah hari-hariku. Hidupku semakin berwarna. Dialah Pria yang membuat Canvas Putih miliku akan selalu berwarna sampai hari ini. Tapi kenyataannya perasaan Dia terhadapku hanya sebatas Canvas Putih. Lalu, kisah setengah tahun ini diakhiri oleh Dia!.


DIA adalah dia...
DIA yang pertama kali mengisi canvas-canvas putihku
DIA membuat semua canvas putih ini berwarna dan tak akan pernah kosong
DIA yang membuat semua mimpiku terasa nyata
DIA yang hidupkan diriku disaatku terasa mati tapi,
DIA juga yang membuat hatiku sedih ketika mengenang DIA.