Jumat, 16 Januari 2015

You come and go, You come and go



     Ada yang bilang sebelum ada kata Selamat tinggal, Semua itu belum berakhir. Tapi, kebanyakan orang berpendapat berbeda tentang hal itu. Aku disini mau Flashback kejadian Sebelum aku mengetahui bahwa ternyata cinta ku hanya sebatas "Canvas Putih." Okey semua berawal dari aku tau ku mencintainya bukan sekedar karena fisik, tapi karena Dia Berbeda. Berbeda dalam cara berpikir , cara dia berbicara, dan terpenting adalah disaat dia menceritakan berbagai pengalamannya kepadaku. 

Tiga bulan aku tak mendapat kabar dari dia. Waktu yang cukup lama buat aku merasa kesepian disaat dia menghilang. Dia menghilang tanpa meninggalkan jejak. Tanpa bersuara. Tanpa penjelasaan. Disaat itu juga aku merasa setengah jiwaku ikut menghilang. Sempat gak percaya bahwa aku akan merasakan kehilangan dia dengan cara begini. Aku mencoba menghubungi dia tapi dia gak pernah merespon apapun, malah lebih parahnya lagi aku sempat sakit ketika dia menghilang. Aku sedih, aku kecewa, aku marah. Tiga bulan telah berlalu, dan tuhan mempertemukan kita kembali. Semua terasa begitu tepat.

Pertemuan ini berawal dari dia menghubungi ku melalui telfon. Di hari sabtu yang sangat dingin itu, tak pernah terpikirkan ataupun berharap bertemu Dia. Tapi kenyataannya tidak begitu. Di hari itu aku  lagi asik bersama para sahabat makan di bilangan Jakarta Pusat, tepatnya di taman Suropati. Tiba-tiba dering telfon ku berbunyi, karena nomer dia sudah tak ada lagi, jadi aku tak tau jika ia yang menelfon. Mungkin kalo aku tau dia yang menelfon, aku akan spontan marah-marah atau mungkin akan lama mengangkat telfonnya. Dikarenakan aku akan menyusun strategi untuk ngomong sama Dia. Tapi, kenyataanya tak begitu. Dengan santainya aku mengangkat telfon Dia. Lalu, percakapan singkat penuh arti kembali hadir. Percakapan itu di awali dengan kalimat " Hallo, masih inget gue gak?." Aku menjawab " Ini siapa ?." Lalu, percakapan itu berakhir ketika Dia ingin kita bertemu. Okey, karena permasalahan ini harus segera dia selesaikan jadi ku putuskan untuk bertemu dengan Dia. 

     Setelah aku menghabiskan makan di taman Suropati, aku langsung menuju tempat yang kita setujui. Tapi, sebelumnya aku mengambil mobil dulu dirumah salah satu sahabatku. Okey, Perjalanan menuju dia sangatlah membingungkan, satu sisi aku sangat merindukan Dia dan ingin bertemu. Tapi, di sisi lain aku takut jika setelah pertemuan ini semuanya akan benar-benar berakhir. Keadaan itu membuat aku ingin cepat sampai dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Dari kejauhan pandangan ku mengarah ke sesosok cowo kurus, berambut hitam, dan berbadan coklat yang berada tepat di samping motor Vespa Putih. Disaat melihat itu aku  langsung merasa senang dan bahagia karena, akhirnya aku bisa melepaskan rindu yang telah lama merasuki jiwa ini. Hanya Rindu. Tapi, perasaan kesal di hati ku masih belum tak termaafkan. Salah satu pikiran yang ada di saat itu adalah " Mengapa dia harus menghilang tanpa berbicara apapun?."

Setelah aku sampai, Dia langsung masuk ke mobil. Saat itu juga aku merasakan ada sesuatu yang berbeda terjadi sama Dia. Dia lebih banyak diam. Karena, aku gak bisa boongin perasaan apa yang  ku  rasakan. Percakapan pertama yang keluar dari mulut ku adalah " Hai, Apa kabar ??, I miss you... . Dia langsung melihat ku dengan tatapan rasa sedih yang sangat dalam. Dan percakapan itu belanjut dan terus berlanjut, sampai akhirnya Dia membahas permasalahan yang sebenarnya terjadi. Dia memulai menjelaskan hal itu dengan kalimat, " Aku merasa bersalah banget ni sama Kamu. Aku juga selalu kepikiran atas kesalahan yang udah aku buat ke kamu!." Dan dengan spontan aku bertanya, 
" Jadi, kenapa kamu ninggalin aku gitu aja? tanpa ngasih penjelasaan apapun, Kenapa?? apa yang buat kamu gitu ke aku ? cewe lain ya ?," Pertanyaan itu langsung membuat dia diam dalam waktu yang cukup lama.

Cukup lama dia diam akhirnya dia mulai berbicara " Iya ni, emang awalnya gue deket sama cewe dan berpikir bahwa, " She's the one from me." Tapi, ternyata dia bukan seperti yang gue pikir. " Lo boleh kok marah-marah ke gue." Gue akan terima karena gue salah!. Keadaan itu membuat aku gak bisa boongin perasaan marah dan kecewa akan Dia, Aku meluapkan kemarahan dengan nada berbicara agak tinggi," Jadi, kenapa lo pergi kayak gini?," Seenaknya menghilang tanpa menjelaskan apapun!. Terus lo memblock LINE gue!, Unfriend gue di Path!, kenapa gak sekalian aja Unfollow Instagram gue?.  Mau lo apa sih?. 

Lalu, dia terdiam sambil mendengarkan aku selesai berbicara. Setelah itu, ia mengucapkan beberapa potong kalimat kepadaku , " Udah, ni?, gak mau marah-marah lagi?." Gakpapa kok kalo lo masih mau marahin gue. Dan pertanyaan itu aku jawab dengan kalimat, " Apa gunanya sih gue marah-marah sama lo!, kayaknya itu juga bukan penyelesain yang tepat buat masalah ini , dan sepertinya, itu hal yang gak akan merubah segalanya menjadi lebih baik, kan ?." Disini gue cuman pengen mendengarkan penjelasaan lo. Dan percakapan ini aku akhiri dengan kalimat, " Udah sekarang, gue cuman pengen tau apa sebenarnya yang terjadi!". "Okey ni, Jadi gini, Sebelumnya gue minta maaf dengan apa yang gue lakuin ke lo, gue merasa bersalah memperlakukan lo kayak gini.", Masalah gue memblock LINE lo dan Unfriend Path, itu semua karena cewe itu yang nyuruh. Gue cerita semua ke dia tentang hubungan antara kita. Jadi, dia mau kalo gue sama lo benar-benar gak berhubungan lagi. Tapi ternyata semua yang gue lakuin salah. Ternyata cewe itu bukan yang sebenarnya gue cari.

Perasaan ku saat itu sangat sakit, dengan spontan keluarlah kalimat " Oh jadi bener feeling gue selama ini!. " Dia satu kampus ya sama lo???," Dia menjawab "Iya!." Okey, karena penjelasan itu sangatlah jelas, gue langsung segera menyelesikan percakapan ini. Disaat itu juga, aku gak bisa membohongi diri ku jika aku kecewa. Iya aku kecewa, kecewa atas perilaku Dia yang seenaknya pergi. Tapi, karena dia udah mau minta maaf dan menjelaskan semua yang telah terjadi, aku harus bisa menerima semua kenyataan yang ada.

Akhirnya, aku memutuskan untuk mengakhiri percakapan ini dengan kalimat, " Lo tau gue selalu jujur sama lo kan?. Gue Cinta sama lo!". Tapi, gue gak memaksa lo untuk melakukan hal yang sama kok. Terpenting sekarang, gue udah tau apa yang sebenernya terjadi. Tapi, yang jelas gue seneng banget bisa bertemu sama manusia seperti lo, dan kenal sama lo sampai sejauh ini. Makasih juga atas semua waktu dan penjelasan lo malam ini, karena ini sangat berarti buat gue.

Lalu, sebuah kalimat terucap dari dirinya, "Ni, gue sekarang udah gak deket lagi sama cewe itu!", ataupun berhubungan dengan dia, dan sekarang gue gak nyuruh lo untuk pergi. Gue membuat dua pilihan!, lo mau kita Just Friend or Just Friend, but you know. Kayak dulu. Karena gue disini adalah cowo yang Yes, Man. Semua keputusan yang lo buat akan gue terima.

Pertanyaan itu membuat gue harus berpikir lebih dalam dan lebih panjang. Ternyata Dia hanya menganggap aku Just Friend?? What??. Di satu sisi sebenarnya aku gak bisa kehilangan Dia dan di sisi lain aku gak mau menjadi cewe yang menerima perlakukan seperti itu. Perlakuan yang membuat dia bisa datang dan pergi seenaknya. Lalu, sempat berpikir akan semua hal ini. Aku berpikir untuk gak boleh mencintai dia lebih besar dari kecintaan akan diri aku sendiri. Sebenernya yang aku mau bukan sekedar hanya di Cintai tapi aku mau di Hargai. Disaat itu juga aku berpikir untuk memafkan diri ku atas kenyataan yang telah terjadi antara aku dan Dia. Keputusan untuk menjadikan Dia hanya sebatas "Friend with some memories," adalah suatu keputusan yang menurut aku sangat tepat. Tapi ternyata hal itu membuat dia kaget dan spontan menanyakan kembali pertanyaan itu. Dia merasa gak yakin bahwa aku memutuskan hal semacam itu. Tapi kenyataannya memang begitu.

Malam telah berganti menjadi pagi. Pertemuan itu kita akhiri dengan kalimat " Hati-hati ya lo, jangan bandel-bandel. Okey!." Dan dia langsung memelukku lalu keluar dari mobil tanpa menoleh ke belakang. Disaat itu aku melihat dia dari belakang, dan merasakan kenyataan bahwa sekarang aku benar-benar kehilangan Dia. Lalu, berpikir bahwa sekarang aku hanya bisa menikmati semua tentang Dia sebatas punggungnya saja. Aku tak bisa menikmati dia lebih dari itu. Tapi, sesuatu perasaan yang aneh menghantui pikiranku. Di saat dia turun dari mobil, Dia benar-benar gak menoleh ke belakang ataupun mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya. Sampai-sampai tanpa sadar aku melihat dia menjadi semakin jauh dan jauh dari pandanganku. Saat tak ada lagi dia di pandangaku,  terjadilah sebuah pemikiran di otakku bahwa sepertinya ini belum berakhir. Aneh ?. Memang aneh. Lalu, semua terasa benar dan tepat.


Cerita ini memang belum sepenuhnya berakhir...Jadi, di suatu malam yang biasa lagi.  Aku dan Dia...???