Jumat, 11 September 2015

Secangkir Kopi Pahit

Wanita

Terkagetlah kau di sore hari yang kau anggap biasa itu. Beberapa orang sibuk dengan gadget-nya masing-masing, ada yang asik berbincang, ada pula yang hanya melihat kekosongan. Tapi, tak satu kegiatan tersebut kau lakukan. Sempatlah engkau terdiam melihatku, namun alat-alat kopi cepat megalihkan semua pandanganmu. Terfokuslah kau disana, sampai akhirnya aku berlalu begitu saja.

Pria

Beberapa orang menyuruhku untuk menyapamu. Tapi bukan aku tak mau, hanya saja tak ingin ku ganggu kau dan buku yang tengah asyik merasuki Duniamu. Melihat kau dari jauh saja itu sudah lebih dari cukup. Sampai seketika mata ini melihat tawa di balik bukumu. Tanpa sadar wajahku menggerakan bibirnya untuk tertawa. Dan tertawalah kita bersama, berdua!. "Iya" hanya berdua. Tak terlihat satu orangpun menganggu kebahagian kita. "Woy!, HAH?, terkagetlah aku." Ternyata itu hanya sebuah angan-anganku saja, daftar pesanan kopi malam ini amat banyak. Sampai - sampai susah ingin melihatmu sesering dulu. Berlalulah angan itu pergi bersama senja.

Wanita

Tiba-tiba terdengarlah suara lagu yang tak asing terputar di telinga. "Sementara", lagu sementara Float kali ini mengalihkan konsetrasiku. Sempat pikiran ini terbawa kedalam kenangan yang telah kamu buat bersamaku di sini. Di tempat aku berada sekarang. Buku yang tengah ku bacapun tertutup untuk sementara waktu, tak bisa ku lanjantukan halaman demi halaman karena kamu mengalihkannya. Aku tuang kembali secangkir kopi pahit pesananku, dan meminumnya secara perlahan agar bisa kurasakan kepahitan itu. Rasa pahit itu bukan hanya sebuah rasa, tapi kepahitan itu  sudah melekat. Karena akupun tau di balik kepahitan sebuah kopi akan ada kenikmatan yang tersisa. Kamu memang kepahitan di hidupku, tapi pahit itu sedang aku nikmati. Lalu, pandangan ini mengarah ke seseorang yang sedang sibuk meracik kopi pesanan, dari jarak pandang yang tak jauh aku melihat ia begitu serius. Sesekali aku tersenyum dan berharap ia akan melihatku juga. Barulah tersadar sudah lama aku kesini dan kita saling bertemu tapi, tak pernah sebuah nama terlontar dari bibirnya. Dan berbaliklah tubuh ini dengan padangan ke arah jendela.

Pria

Senja berubuah menjadi semakin gelap, kedai kopi inipun akan segera tutup. Aku sibuk membereskan alat-alat kopi dan barang lainnya. Saat kesibukan mulai menghampiri beberapa kali  aku mencari-cari kesempatan untuk melihat kau yang tengah terduduk, terdiam dan hanya menyeruput kopi itu hingga habis. Tak pernah ku sangka bahwa seorang wanita menyukai kopi yang amat pahit. Tapi, disitulah nilai lebih yang kau dapatkan. Jujur aku mengaggumimu. Kau bukan hanya wanita yang murah senyum,  tapi kau juga menjadi wanita asli penikmat kopi. Dari pertama aku melihat kau hadir ke kedai ini, aku mulai merasakan ada perbedaan yang merasuki hatiku. Tiba-tiba aku teringat, aku tak benar-benar mengenalmu, nama kau saja aku tak tau. Di situlah sebuah tantangan merasuki seluruh perasaan dan tubuh ini.

Wanita dan Pria

Pria :" Hallo...".

Wanita : Hai...

Pria : Minal aidin dulu dong! (berjabat tangan)

Wanita : Oh hahaha, Minal aidin juga ya (tersenyum bersama pria)

Pria : Oh ya belum kenalan ya?, nama kamu siapa ?

Wanita : Yaampun iya, "nama aku _ _ N I". "Nama kamu siapa?."

Pria : Hallo, Ni. " Aku Te _ _."

(Percakapan itu berlanjut dan terus berlanjut, sampai di akhir pembicaraan ia pamit untuk melanjutkan perkerjaannya)

Wanita

Terdiamlah aku sesaat, tak ada kata yang bisa menjelaskan tentang malam ini. Akhirnya sesuatu yang telah ku tunggu terjadi. Tak pernah kusangka malam ini ia berani mendatangi. Semua terasa begitu menyenangkan. Lalu, keluarlah aku dari kedai kopi. Lagu di telinga pun terputar mengikuti suasana malam ini, berjalanlah mobil ini pulang bersama senyum yang tak henti menggerakannya.

Pria

Tak akan ada hari seindah hari ini, dan tak ada lagi pertanyaan tentang nama kau yang merasuki pikiran. Malam ini akan menjadi tidurku yang amat nyenyak, dan senyum kau akan menjadi mimpi indah buatku. Semua terasa begitu menyenangkan. Tapi, ada satu pertanyaan yang belum aku ketahui, "Apakah kau merasakan hal yang sama?."