Senin, 02 Mei 2016

Secarik Cerita


Terbangunlah aku di tengah malam yang sepi. Badanku membalikan tubuhanya ke arah pintu. Mata ini seperti melihat sebuah cahaya disana, cahaya yang tak wajar. Setelah kupandangi cahaya lebih dalam lagi, ia menghilang. Aku terdiam sesaat. Baru kali ini perasaanku tak enak. “Apa yang terjadi ?.” Sebelum terlelap, banyak hal merasuki otakku. Merasa sedih, kecewa, dan tak berguna, pemikiran semacam itu membuat aku muak. Lalu, datanglah keinginan membawaku pergi. Walau belum di pastikan kemana angin akan membawanya. Tiba - tiba cahaya itu datang lagi secara perlahan dengan pasti, kali ini bukan hanya mataku yang terbawa olehnya tapi, tubuh ini juga merasakan hal serupa.

Aku ingin meninggalkan Bumi ini untuk sementara waktu. Akanku coba terbang bersama burung – burung mengangkasa. Bebas, lepas, luas. Aku ingin. Dikit demi sedikit jaringan otak ini terkagetkan akan sebuah masa. Dialah masa lampau. Hallo masa lampauku kau datang disaat yang tepat. Kenangan itu hadir secara perlahan merasuki jiwa ini. Jiwa yang tadinya hanya diam, malah mengeluarkan argumentasinya sendiri. Pagi ini aku memberanikan diri untuk melupakan kamu, dia , ataupun mereka.

Kukayuh sepeda ini di temani dengan alunan nada-nada yang indah, membuat hati menjadi lebih tenang. Perjalanan ini sangatlah mengagumkan. Seakan Dunia ini tau apa yang sedang kuinginkan. Kulayangkan pandangan melihat keadaan sekitar. Seluruhnya hanya memberikanku sebuah, Keheningan. Langkah demi langkah kulalui bersama matahari yang menyinari seluruh alamnya. Langitpun ikut memberikan warnanya sendiri. Biru laut, “Iya,” biru laut yang terpancar jelas disana. Sentuhan awan-awan putih menyempurnakan segalanya.

         Tiba – tiba sebuah kelemahan menghampiri, sifat manusia yang sesungguhnya dan tak bisa di pungkiri, kini kembali hadir. Keadaan ini menjadikan ku terdiam untuk waktu yang begitu lama. Terduduklah aku memandangi bayangan demi banyangan. Ternyata, bayangan itu adalah diriku. Melayang aku melihat senyum dan tawa yang terpancar disana. Diapun menghadiri seluruh banyangan itu. Terbawalah aku kedalam lautan asmara, dan berbahagialah seorang wanita di tengah kesendiriannya. Aku merasakan sebuah hembusan angin meramaikan suasana ini. Namun, hembusan itu tak seperti biasanya, ia membawa kebahagian itu dan menyisakanku sebuah, "kekosongan." Terjatuhlah aku tersungkur menangis meratapinya. ARGHHHHH!!!! Suara teriakan terdengar lantang keluar dari mulut ini. Keheningan yang tadinya bungkam, kini bangkit kembali. Bukan itu saja, Alam Semesta merasakan hal serupa. Dengan diturunkannya sebuah hujan, aku terpana. Manusia – manusia menujukan tatapannya kepadaku yang tengah terdiam melihat mereka. Tak ada satupun kata terlontar, hanya sebuah tatapan tajam yang ku terima. Mereka Bisik saling membisik membuatku terusik.

Terbangunlah aku. Berdiri. Merasakan setiap rintikan terjatuh ke tubuh ini. Keramaian hilir mudik menusuk gendang telinga. Bisikan dan tatapan mereka kembali mengusik. Aku berlari sekencang – kencangnya tanpa perduli dan meninggalkan semua yang ada di belakang. Rasa kekesalan itu menghantui secara cepat, merasuki jaringan hati ini demi mencoba tak kembali mengoreskan sebuah, luka. Air kesedihan tanpa disadari mengalir begitu saja.
         
      Berhenti sejenakku, kehangatan secara perlahan menghampiri. Tertataplah langit dan matahari tengah menyinari jalan ini. Secerca cahaya itu datang seperti hembusan angin segar yang meremajakan semua saraf di tubuh. Langkah demi langkah kulalui dengan perasaan penuh tanya. “Kemana sebenarnya ia akan membawaku ?,” Perjalanan ini mungkin tak pernahku temukan lagi, jadi akan kulanjutkan.” Saat kaki ini melangkah, ada sebuah cahaya yang pelan-pelan menyinari tubuh dingin ini dan sampailah aku dimana tempat itu sebagai tujuan. Aku terpaku melihat suasana kota dengan seribu keindahannya. Terpanjatlah sebuah Doa untuk keluarga yang di cintai, agar ia selalu berbahagia. Lalu, hati ini menguatkan dirinya untuk bersiap pergi meninggalkan masa lampau, dan membiarkannya menjadi sebuah kenangan. Kaki ini berjalan menuju pancaran cahaya itu. Tanpa di sadari, dekatlah aku padanya. “Aku akan pergi membawa kesedihan, kekecewaan. dan kebencian bersamamu, wahai kau yang bersinar disana.” Mulut ini berbicara. Mata ini melihat diriku terbang melayang. Tapi, tak sedikit-pun terlihat ada senyum di sana. Telinga ini mendengar sebuah getaran irama, terpanalah aku mendengarnya. Suara itu memiliki sebuah energi yang membangkitkan seluruh jiwa dan semua organ tubuh ini.
      
      Senja kali ini matahari mulai menunjukan bukan lagi sebuah warna, seakan warna itu sudah terkandung di dalamnya yang membuat hidupku, hidupnya, dan hidup mereka terpapar oleh getaran energi mistis tersebut. Semua orang-pun merasakannya. Alunan irama ikut menghiasi senja dengan begitu tepat. Seakan ia mempersiapkan segalanya. Entah itu benar atau tidak yang jelas suasana ini membuatku bahagia. Melalui musikku kembali. Akan ku ciptakan harapan demi harapan, mimpi demi mimpi agar hidup menghiasi Dunia seperti dulu kala. Bersama para sahabat akan tercipta perubahan itu.

August 5, 2015 at 9:31 AM